Hukum dan Tujuan Pernikahan

– Pernikahan merupakan unsur mendasar dalam kehidupan masyarakat yang total. Ciri khas Islam merupakan bahwa tiap instruksi yang mesti dikerjakan oleh umat mesti diatur oleh agama dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Sebab itu, dalam kehidupan yang berbeda ini, tak ada satu instruksi bahkan untuk berdoa, puasa, naik haji, dan lain-lain sehubungan dengan layanan dan instruksi tertentu. Atau beribadah secara awam, seperti instruksi infaq, pengabdian terhadap orang tua, bertindak bagus dengan tetangga dan orang lain yang tak mempunyai aturan Syariah, dan kebijaksanaan.

Memahami pernikahan

Dalam aturan pernikahan Islam, kata “nikah” merupakan alih bahasa dari istilah: nikah atau zawaj, namun dalam opini yang legal; sebelum arti sebetulnya merupakan kontrak dan wati / kekerabatan seksual sebagai ungkapan.

Perkawinan dalam arti spesialis fiqih merupakan sebagai berikut:

Pernikahan merupakan kontrak yang menyebabkan suami dan istri saling mencintai dengan sistem yang legal, sebagaimana diatur oleh Allah SWT

Pernikahan berdasarkan Syariah merupakan pelafalan perjanjian yang tenar, yang berisi sebagian pilar dan ketetapan

Berdasarkan aturan Syariah lainnya, pernikahan merupakan kontrak yang berisi jaminan mengenai dibolehkannya berurusan dengan pengucapan pernikahan, tazwij.

Mengenai pentingnya pernikahan, ada kontrak yang berisi pilar dan situasi yang sudah diatur untuk dikumpulkan. Abu Zahrah mendefinisikan pernikahan sebagai kontrak yang, menurut agamanya, memberikan hak seseorang untuk bersenang-berbahagia di antara masing-masing pihak.

Dari pengertian ini, kita bisa menyimpulkan bahwa inti utama Peekawinan merupakan kontrak, yang ialah pemindahan antara wali legal dari pengantin baru. Pengajuan dan asumsi tanggung jawab dalam arti luas untuk menempuh tujuan.

Pernikahan merupakan momen penting dalam kehidupan manusia. Pernikahan merupakan permulaan dari kehidupan baru bagi dua orang yang pertama kali hidup mandiri dan kemudian hidup bersama. Dengan pernikahan itu, generasi baru lahir untuk melanjutkan generasi sebelumnya

DASAR HUKUM PERNIKAHAN

Berdasarkan pandangan Islam, itu tak cuma perbuatan ibadah, namun juga Sunnah Allah dan Sunnah Utusan-Nya. Sebagai Sunah Allah, pernikahan merupakan tuntunan dan Irodat Allah dalam menghasilkan alam semesta. Kita bisa memandangnya dari ayat-ayat selanjutnya

Allah berfirman dalam Surat Yasin ayat 36, yang berarti:

\\\”Kemuliaan bagi Allah, yang menghasilkan makhluk-makhluknya berpasangan, bagus dari apa yang datang dari Bumi dan dari dirinya sendiri, dan dari apa yang mereka tak tahu.”

HUKUM – PERNIKAHAN

Sehubungan dengan hal di atas, perlu di sini untuk menerangkan sebagian aturan pernikahan, yakni:

Patut: Pernikahan seharusnya bagi mereka yang telah mempunyai harapan dan kesanggupan untuk membangun rumah tangga yang percaya diri, dan seandainya ia tak takut, perzinahan akan tergelincir.

Sunat: Berdasarkan Jumhur Ulama, sunat merupakan pernikahan, itu merupakan pernikahan bagi orang-orang yang telah mempunyai harapan dan kesanggupan untuk mendirikan rumah tangga, namun seandainya tak, mereka tak kuatir perihal perzinaan.

Haram: Pernikahan ilegal merupakan pernikahan bagi mereka yang tak merasa seperti itu dan tak bisa mengendalikan rumah tangga dan memenuhi keharusan selama pernikahan. Saat ia menikah, ia meninggalkan istri dan istrinya atau malahan menyakiti istrinya.

Makruh: Pernikahan Makruh merupakan pernikahan seorang pria yang mempunyai harapan untuk mengerjakan itu dan mempunyai kesanggupan untuk membendung diri dari perzinaan, sehingga tak mungkin untuk menghindari mengerjakan perzinaan seandainya ia tak telah menikah. Melainkan orang ini tak mempunyai kemauan untuk memenuhi keharusannya sebagai suami dan istri yang bagus.

Mubah: Pernikahan Mubah merupakan pernikahan bagi mereka yang mempunyai kesanggupan dan harapan untuk melaksanakannya, namun seandainya mereka tak melaksanakannya, tak ada rasa takut bahwa mereka akan mengerjakan perzinahan, dan seandainya mereka melaksanakannya, mereka tak akan meninggalkan istri mereka .

Tujuan dan pernikahan

Tujuan pernikahan dalam Islam merupakan untuk melakukan Sunnah Nabi (SAW) dan untuk memenuhi tuntutan kemanusiaan yang ada antara pria dan wanita untuk mengawali sebuah keluarga yakni Mawadah Warohmah untuk menerima keturunan dengan Regulasi Syariah ditiru.

Prasyarat dan Rukun Nikah

Pernikahan berlaku saat ada situasi dan keharmonisan yang diatur oleh agama, sementara situasi dan aturan:

RUKUN NIKAH

•             Calon pengantin laki-laki

•             Calon pengantin Perempuan

•             wali

•             Dua saksi laki-laki

•             Ijab dan Kabul

syarat NIkah

•             Islam

•             Pria / wanita tertentu

•             Bukan Mahram pria / wanita.

•             Kenali wali yang sebetulnya dari kontrak pernikahan

•             Tak dalam haji atau umrah ihram

•             Dengan kemauanmu sendiri dan bukan dengan paksaan

•             Tak mempunyai empat istri yang legal secara beriringan (pria)

•             Mengenal bahwa seorang pria / wanita yang berkeinginan menikah legal sebagai istri atau suami.

PERNIKAHAN YANG  DILARANG DALAM ISLAM

Nikah Mut’ah.

Pernikahan mut’ah merupakan pernikahan yang dijalankan oleh seseorang yang cuma berkeinginan melepaskan dan bersenang-berbahagia sejenak. Pernikahan dengan Mut’ah pernah diperkenankan oleh Nabi Muhammad. Melainkan, dalam perkembangan berikutnya, Nabi Muhammad melarangnya selamanya.

Menikah Syighar.

Pernikahan Syighar merupakan pernikahan seorang wanita yang wali menikah dengan pria lain tanpa mahar, dengan perjanjian bahwa pria hal yang demikian akan menikahi wali wanita itu dengan wanita di bawah perwaliannya. Utusan Allah secara tegas sudah melarang variasi pernikahan ini.

Nikah Tahlil

Pernikahan Tahlil merupakan pernikahan seorang pria yang menyebut istrinya, yang sudah dimenangkannya, sehingga dia bisa menikah lagi dengan suami pertamanya, yang menjatuhkan Thalaq tiga (Thalaq Bain). Pernikahan Tahlil merupakan wujud kolaborasi negatif antara Muhallil (suami pertama) dan Muhallal (suami kedua).

Perkawinan beda agama.

Allah SWT berfirman, yang berarti,\”Dan jangan menikahi seorang musyrik sebelum kau percaya. Sungguh seorang budak dari seorang wanita yang loyal lebih bagus ketimbang seorang musyrik meski ia menarik kau. Dan jangan menikahi kaum musyrik (dengan wanita yang beriman), Sebelum mereka percaya, pada kenyataannya, seorang hamba yang beriman dari seorang beriman lebih bagus ketimbang seorang musyrik, meski dia menarik Anda. Mereka mengundang Anda ke neraka sementara Allah memberi izin ke surga dan pengampunan dengan izinnya. (Allah) menerangkan ayat-ayatnya terhadap orang-orang, bagi mereka untuk mengambil pembelajaran (Surat al-Baqarah: 221)

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>